PENYAKIT EPILEPSI

-

epilepsiEpilepsi mungkin tidak asing bagi kita, bila kita melihat seseorang mempunyai kecenderungan untuk kejang..
Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh terjadinya serangan (sizure, fit,attack,spell) yang bersifat spontan dan berkala. Hal ini dapat terjadi pada semua orang tidak tergantung pada mempunyai keturunan atau tidak. Dalam dunia medis, seseorang didiagnosis dengan epilepsi setelah mengalami kejang sebanyak beberapa kali. Tingkat keparahan kejang pada tiap penderita epilepsi berbeda-beda. Ada yang hanya berlangsung beberapa detik dan ada juga yang hingga beberapa menit. Ada yang hanya mengalami kejang pada sebagian tubuhnya dan ada juga yang mengalami kejang total hingga menyebabkan kehilangan kesadaran
Sel saraf atau neuron dalam otak merupakan bagian dari sistem saraf yang berfungsi sebagai pengatur kesadaran, kemampuan berpikir, gerak tubuh, dan sistem panca indera kita. Tiap sel saraf saling berkomunikasi dengan menggunakan impuls listrik. Kejang terjadi ketika impuls listrik tersebut mengalami gangguan sehingga menyebabkan perilaku atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.
Serangan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak, sifatnya mendadak dan sepintas, berasal dari sekelompok besar sel-sel otak, bersifat sinkron dan ber-irama. Serangan dapat berupa gangguan motorik, sensorik, kognitif atau psikis.
Perlu diingat bahwa Istilah epilepsi tidak boleh digunakan untuk serangan yang terjadi hanya sekali saja, serangan yang terjadi selama penyakit akut berlangsung dan occasional provokes seizures misalnya kejang atau serangan pada hipoglikemia.
Apa Penyebab epilepsi
Seperti diutarakan diatas, Epilepsi dapat diderita seseorang mulai pada usia kapan saja, biasanya terjadi sejak masa kanak-kanak. Berdasarkan temuan penyebabnya, epilepsi dibagi menjadi tiga, yaitu epilepsi simptomatik, kriptogenik, dan idiopatik.
Pada epilepsi simptomatik, umumnya kejang-kejang diakibatkan oleh adanya gangguan atau kerusakan pada otak. Bertolak belakang dengan simptomatik, penyebab kejang pada epilepsi idiopatik sama sekali tidak ditemukan. Sedangkan pada epilepsi kriptogenik, meski tidak ditemukannya bukti kerusakan struktur pada otak, namun gangguan belajar yang diderita menunjukkan adanya kerusakan.
Klasifikasi epilepsi
Berdasarkan tanda klinik dan data EEG, kejang dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Kejang umum (generalized seizure) jika aktivasi terjadi pada ke-dua hemisfere otak secara bersama-sama.     Kejang umum terbagi atas :

a. Tonic-Clonic Convulsion / Grand Mal , Merupakan bentuk paling banyak terjadi pasien tiba-tiba jatuh, kejang, nafas terengah-engah, keluar air liur, bisa terjadi sianosis, mengompol, atau menggigit lidah terjadi beberapa menit, kemudian diikuti lemah, kebingungan, sakit kepala.
b. Abscense Attacks / Petit Mal, Jenis yang jarang. Umumnya hanya terjadi pada masa anak-anak atau awal remaja dimana penderita tiba-tiba melotot, atau matanya berkedip-kedip dengan kepala terkulai. Kejadiannya cuma beberapa detik dan bahkan sering tidak disadari.
c. Myoclonic Seizure, Biasanya terjadi pada pagi hari, setelah bangun tidur dimana pasien mengalami sentakan yang tiba-tiba. Jenis yang sama (tapi non-epileptik) bisa terjadi pada pasien normal.
d. Atonic Seizure, Jarang terjadi dimana pasien tiba-tiba kehilangan kekuatan otot, jatuh, tapi bisa segera recovered.
2. Kejang parsial/focal jika dimulai dari daerah tertentu dari otak. Kejang parsial terbagi menjadi :
a. Simple Partial Seizures, Pasien tidak kehilangan kesadaran, namun, terjadi sentakan-sentakan pada bagian tertentu dari tubuh.
b. Complex Partial Seizures, Pasien melakukan gerakan-gerakan tak terkendali, seperti gerakan mengunyah, meringis, dll tanpa kesadaran.

Anamnesa
Anamnesa perlu dan harus dilakukan secara cermat, rinci dan menyeluruh disertai informasi yang sangat berarti dari penderita seperti penjelasan perihal segala sesuatu yang terjadi sebelum, selama dan sesudah serangan sehingga dapat merupakan kunci diagnosis.
Anamnesa juga memunculkan informasi tentang trauma kepala dengan kehilangan kesadaran, meningitis, ensefalitis, gangguan metabolik, malformasi vaskuler dan obat-obatan tertentu.
Anamnesa (auto dan aloanamnesa), meliputi :
1. Pola/bentuk serangan
2. Lama serangan
3. Gejala sebelum, selama dan paska serangan
4. Frekuensi serangan
5. Faktor pencetus
6. Ada/tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang
7. Usia saat terjadi serangan pertama
8. Riwayat kehamilan, persalinan dan perkembangan
9. Riwayat penyakit, penyebab dan terapi sebelumnya
10. Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga
11. Pemeriksaan penunjang
12. Elektro-Ensefalografi (EEG)

Pemeriksaan Penunjang
Dalam menegakkan diagnosisi epilepsi perlu dilakukan pemeriksaan penunjang, antara lain :
1. Electro-Ensefalografi (EEG) , Pemeriksaan EEG merupakan pemeriksaan yang harus dan yang paling sering dilakukan pada semua pasien epilepsi. Adanya kelainan fokal pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya lesi struktural di otak. Adanya kelainan umum pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya kelainan genetik atau metabolik
2. Rekaman video EEG, Rekaman EEG dan video secara simultan pada seorang penderita yang sedang mengalami serangan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis dan lokasi sumber serangan. Rekaman video EEG memperlihatkan hubungan antara fenomena klinis dan EEG, serta memberi kesempatan untuk mengulang kembali gambaran klinis yang ada. Prosedur ini sangat bermanfaat untuk penderita yang penyebabnya belum diketahui secara pasti, serta bermanfaat pula untuk kasus epilepsi refrakter. Penentuan lokasi fokus epilepsi parsial dengan prosedur ini sangat diperlukan pada persiapan operasi.
3. Pemeriksaan Radiologi lainnya, seprti CT Scan dan atau MRI. Bila dibandingkan dengan CT Scan maka MRl lebih sensitif dan secara anatomik akan tampak lebih rinci. MRI bermanfaat untuk membandingkan hipokampus kanan dan kiri.

Pengobatan serta komplikasi epilepsi
Hingga kini memang belum ada obat atau metode yang mampu menyembuhkan kondisi ini secara total. Meski begitu, obat anti epilepsi atau OAE mampu mencegah terjadinya kejang, sehingga penderita dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dengan mudah dan aman.
Penanganan penderita epilepsi juga perlu ditunjang dengan pola hidup yang sehat, seperti olahraga secara teratur, tidak minum alkohol secara berlebihan, serta mengonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang.
Hal Yang Perlu Diingat
Perlu diingat, bahwa kejang-kejang pada penderita epilepsi harus ditangani dengan tepat untuk menghindari terjadinya komplikasi dan situasi yang dapat membahayakan nyawa penderitanya. Contohnya adalah terjatuh, tenggelam, atau mengalami kecelakaan saat berkendaraan akibat kejang.
Dalam kasus yang jarang terjadi, epilepsi dapat menimbulkan komplikasi berupa status epileptikus. Status epileptikus terjadi ketika penderita mengalami kejang selama lebih dari lima menit atau mengalami serangkaian kejang pendek tanpa kembali sadar di antara kejang. Status epiliptikus dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak, bahkan kematian.

Segeralah konsultasi ke Dokter Spesialis Saraf RS Jakarta, untuk pendaftaran silahkan hubungi 021 573 2241 ext 126 / 127