Manfaat Terapi Akupunktur Dalam Olahraga

-

IMG_5444Akupunktur olah raga adalah terapi yang menggunakan teknik akupunktur untuk mengobati atlit yang mengalami kelelahan fisik atau cedera pada bagian tubuhnya. Terapi ini telah terbukti kegunaannya untuk menjaga fisik dan mempercepat penyembuhan dari cedera agar dapat mengikuti jadwal pertandingan yang ketat.

Dr. H. Susetyo Soewarno, SpKO dari Jakarta Beauty & Health Clinic – RS Jakarta menuturkan “Seorang atlit yang mengikuti pertandingan dengan jarak waktu permainan yang berdekatan dan lama akan menguras tenaga yang berlebihan, sehingga menimbulkan rasa lelah yang berlebihan. Akupunktur olahraga dapat memulihkan tenaga dengan cepat karena membuat fase tidur yang dalam. Pada fase ini terjadi relaksasi otot yang maksimal, sehingga otot yang masih kontraksi, akibat penumpukan asam laktat hasil dari metabolisme anaerobik dan stres akibat suasana pertandingan, dapat segera kembali prima.”

Pada cedera akibat pertandingan, teknik yang digunakan adalah akupunktur myofasial yang berbeda dengan akupunktur tradisional yang banyak diketahui masyarakat pada umumnya. Di mana cara penusukan, pemilihan jarum dan teknik terapinya berbeda pula. Sasaran terapi dari akupunktur jenis ini lebih kearah neuromuskular, dengan menggunakan metode akupunktur obliq, yaitu posisi jarum tidak tegak lurus atau obliq, tidak menggunakan titik-titik akupunktur tradisional dan jarum tidak ditinggal lama. “Efek perubahan rasa sakit pada neuromuskular yang langsung terasa berkurang dan tidak membutuhkan terapi yang berulang ulang,” lanjut dr. H. Susetyo Soewarno, SpKO.
Sejarah akupunktur myofasial ini mengacu pada buku Lingshu Jing (Classic of the miraculous pivot), yang merupakan awal kumpulan catatan kedokteran klasik di Cina, ditulis 770-476 Sebelum Masehi. Buku ini kemudian disatukan dengan buku Su Wen (Questions of Fundamental Nature) yang lalu diberi judul Yellow Emperor’s Internal Canon of Medicinepada tahun 476-221SM. Buku ini yang sampai sekarang dipakai untuk panduan terapi akupunktur pada umumnya.

Lu Ding Ho merupakan orang yang menggali kembali Classic of the miraculous pivot dengan menggunakan teknik akupunktur oblique yang dikenal dengan terapi myofasial, khususnya digunakan untuk kasus yang berhubungan dengan neuromuskular (otot, tendon, ligamen dan saraf).

Akupunktur myofasial dipopulerkan oleh Lu Ding-Hou, khususnya mengenai terapi neuromuskular. Dalam bukunya, ia membandingkan secara makroskopis antara otot cedera yang mendapat tusuk jarum akupunktur dengan yang tidak. Hasilnya adalah otot cedera yang mendapat rangsangan dengan jarum akupunktur akan cepat menjadi normal, ini terlihat dari gambaran serabut otot dengan struktur serat yang kacau akibat cedera menjadi teratur kembali dalam waktu singkat

Terapi akupunktur myofasial ini telah dikenal diberbagai negara karena efek hasil terapi yang lebih cepat dibandingkan terapi akupunktur tradisional pada kasus cedera neuromuskular. Pada kasus ini banyak terjadi pada atlit yang banyak menggunakan kemampuan muskular dalam mencapai prestasinya dalam bidang olahraga. Kasus cedera pada atlit sering terjadi dan memerlukan pemulihan yang cepat untuk bisa kembali bertanding sehingga akupunktur ini sering disebut akupunktur olahraga (Sports Acupuncture).

Pada cedera neuromuskular dapat terjadi sobekan pada otot, tendon, ligamen dan saraf. Pembengkakan jaringan ini akibat pecahnya pembuluh darah, menimbulkan rasa nyeri dan panas, selain itu gerakan anggota tubuh yang terbatas karena otot mengalami kontraksi. Hal ini yang menyebabkan seorang mengeluh tak berdaya hingga kadang kadang memerlukan alat bantu untuk menopang bagian tubuh yang mengalami cedera.

Terapi ini menggunakan jarum untuk merangsang proprioseptif (ujung saraf sensorik) pada gangguan neuromuskular. Reseptor neuromuskular terdapat pada otot, tendon dan ligamen. Apabila reseptor itu disentuh oleh jarum akupunktur pada organ yang cedera maka refleks kejutan terjadi pada berkas otot itu dan terjadi proses relaksasi spontan pada organ neuromuskular tersebut artinya cedera yang mengalami kontraksi, dapat menjadi relaks kembali. Respon rangsangan proprioseptif pada neuromuskular ini bekerja spontan sehingga cedera yang ditandai dengan nyeri, bengkak, kemerahan, panas dan kemampuan gerak yang terbatas (proses peradangan) pada tempat yang sakit tersebut akan mereda sehingga keluhan penderita langsung terasa berkurang.

“Ternyata terapi ini tidak hanya disukai oleh atlit saja tetapi juga oleh non atlit karena efek terapi kesembuhan yang cepat, berarti juga cepat menghilangkan penderitaan.” ungkap dr. H. Susetyo Soewarno, SpKO sebelum menutup wawancara.

Alat Ultrasonografi (USG) neuromuskular adalah sebuah teknik diagnostik pencitraan dengan menggunakan suara ultra (2 hingga 13 megahertz) yang digunakan untuk mencitrakan keadaan organ dalam dan otot dengan ukuran, struktur, dan luka patologi. Peran USG neuromuskular dengan terapi akupunktur myofasial adalah dapat mengetahui kerusakan otot, tendon, ligamen, sehingga dapat segera diketahui lokasi cedera, bentuk kerusakan dan tempat penusukannya sehingga sasaran terapinya lebih tepat.

Masalah yang sering dihadapi pada gangguan neuromuskular dan sembuh dengan terapi akupunktur myofasial diantaranya :
– Nyeri kepala ( sakit kepala, migran, bells palsy )
– Nyeri leher ( vertigo, kaku otot leher, tidak bisa menegok )
– Nyeri punggung ( back pain, low back pain )
– Nyeri bahu ( frozen shoulder, shoulder impingement )
– Nyeri lengan ( tennis elbow, golf elbow )
– Nyeri telapak tangan (trigger finger, de quar vain, carpal turner syndrome)
– Nyeri paha ( hamstring strain )
– Nyeri lutut (jumper’s knee, quadriceps tendon injury)
– Nyeri betis ( kram betis)
– Nyeri pergelangan kaki (archiles tendonitis, archiles sprain)
– Nyeri telapak kaki ( plantar facitis )

Untuk informasi selanjutnya, silahkan hubungi dokter akupunktur di Jakarta Beauty & Health Clinic – RS Jakarta

Jl. Garnisun No. 1 Jend. Sudirman, Jakarta 12930 tlp. 021 573 2241 ext 377/3591/3610