Informasi RS Jakarta

Artikel Kesehatan

Category filter:AllArtikel Kesehatan
No more posts
Picture2.png
09/May/2022

Diabetes merupakan penyakit metabolisme yang mempengaruhi kemampuan tubuh dalam memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif untuk mengontrol kadar gula (glukosa) darah. Kadar glukosa darah yang tinggi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada banyak organ tubuh, seperti jantung, ginjal, dan pembuluh darah. Namun tanpa disadari, diabetes juga dapat memicu kerusakan pada pembuluh darah kecil di mata, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan penglihatan buram, ganda, atau seperti ada yang menghalangi.
Lalu apa sih hubungan antara penyakit diabetes dengan kesehatan mata? Adakah cara pencegahannya? Yuk cari tahu jawabannya !

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah. Penyakit ini telah menjadi permasalahan kesehatan di seluruh dunia karena dapat menyebabkan disabilitas bahkan kematian. DIABETIC EYE DISEASE (DED) merupakan komplikasi akibat kadar gula darah tinggi kronis yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah kapiler, yang meliputi retinopati diabetic dan edema makula diabetic. Sekitar 20% penderita DM usia dewasa di 41 negara didagnosis menderita DED.1,2

Gangguan Kesehatan Mata yang Terkait dengan Diabetes

Retinopati Diabetic

Ketika pembuluh darah di retina membengkak, bocor, atau menutup sepenuhnya. Pembuluh darah baru yang abnormal juga bisa tumbuh di permukaan retina. Orang yang menderita diabetes atau kontrol gula darah yang buruk berisiko mengalami retinopati diabetik. Risiko juga meningkat semakin lama seseorang menderita diabetes. Seorang wanita mengembangkan retinopati diabetik setelah hidup dengan diabetes selama 25 tahun.

Edema Macula Diabetic

Edema makula terjadi ketika cairan menumpuk di retina dan menyebabkan pembengkakan dan penglihatan kabur. Diabetes dapat menyebabkan edema makula. Edema makula diabetik dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.

Katarak

Kelebihan gula darah akibat diabetes dapat menyebabkan katarak. Anda mungkin memerlukan operasi katarak untuk menghilangkan lensa yang tertutup oleh efek diabetes. Mempertahankan kontrol gula darah yang baik membantu mencegah kekeruhan permanen pada lensa dan pembedahan.

Glaukoma

Glaukoma adalah sekelompok penyakit yang menyebabkan kerusakan pada saraf optik mata Anda. Kerusakan ini menyebabkan hilangnya penglihatan yang ireversibel. Memiliki diabetes menggandakan peluang Anda terkena glaukoma.

Penanganan & Pencegahan

Penanganan yang dapat dilakukan terhadap pasien DM dengan DED bergantung kepada tingkat keparahan penyakit.

  • Ringan: observasi dan pemeriksaan berkala, koreksi kelainan refraksi (kacamata)
  • Sedang: observasi ketat, laser fotokoagulasi
  • Berat: laser fotokoagulasi, injeksi anti-VEGF, dan/atau pembedahan (vitrektomi)

Tindakan pembedahan katarak dan manajemen glaukoma (terapi penurunan tekanan bola mata atau bahkan pembedahan) dapat dibutuhkan terhadap kondisi DED yang terjadi.

Untuk mencegah kerusakan mata akibat diabetes, pertahankan kontrol gula darah Anda dengan baik melalui diet dan obat-obatan (jika diperlukan). Hal ini dapat mencegah terjadinya retinopati diabetik sebesar 76% dan perburukan retinopati diabetik sebesar 54%.3

Serta pastikan untuk segera melakukan konsultasi dan pemeriksaan rutin dengan dokter spesialis penyakit dalam (internis), spesialis mata (oftalmologis), dan/atau dokter spesialis terkait lainnya.  Informasi dan pendaftaran dapat melalui telp 021 5732241 atau via Whatsapp 0815 8551 2655.

 

Sumber :

  1. https://diabetesatlas.org

2. https://idf.org/our-activities/care-prevention/eye-health/dr-barometer.html

3. Wang W, Lo AC. Diabetic retinopathy: pathophysiology and treatments. Int J Mol Sci 2018;19(1816):1-14


Picture1.png
13/Apr/2022

Gigi bungsu adalah gigi molar ketiga, terletak dirahang atas dan bawah, yang terbentuk dan mengalami erupsi paling akhir. Umumnya erupsi atau munculnya gigi bungsu terjadi pada usia 16 -25 tahun. Gigi dapat tumbuh normal ke dalam rongga mulut bila benih gigi terbentuk dalam posisi yang baik dan lengkung rahang cukup ruang untuk menampungnya. Sebaliknya, pertumbuhan terganggu bila benih malposisi, lengkung rahang tidak cukup luas atau keduanya. Jika pertumbuhan benih gigi terhalang yang mengakibatkan tidak dapat tumbuh atau muncul ke dalam rongga mulut sepenuhnya maka itulah yang disebut impaksi. Lalu apa saja penyebab dan dampak impaksi jika tidak segera ditangani? dan bagaimana penanganan dan perawatan yang tepat?  Yuk cari tahu sama-sama!

Impaksi & Penyebabnya

Impaksi merupakan kondisi gigi yang sebagian atau seluruhnya tidak erupsi (muncul), jalan erupsi normalnya terhalang oleh tulang dan jaringan lunak.  Terdapat berbagai factor penyebabnya, seperti Jaringan sekitar gigi yang terlalu padat, persistensi gigi susu, tanggalnya gigi susu yang terlalu dini, tidak adanya tempat bagi gigi untuk erupsi (muncul) dan kondisi rahang terlalu sempit karena pertumbuhan tulang rahang yang kurang sempurna. Gigi bungsu yang mengalami impaksi, dapat dirasakan tanpa gejala atau hanya menimbulkan rasa nyeri tumpul pada rahang, yang menyebar sampai ke leher, telinga dan kepala (migrain)

Dampak Impaksi

  • Penyakit periodontal (Infeksi jaringan pendukung gigi )
  • Karies (Kerusakan struktur dan lapisan gigi)
  • Perikoronitis (Infeksi dan peradangan gusi)
  • Resorpsi tulang (Erosi pada permukaan tulang)
  • Fraktur tulang (Hilangnya kontinuitas tulang)
  • Kista (Kantung patologis berisi cairan)
  • Tumor (Massa/benjolan jaringan fibrous yang padat dan mendesak gigi geligi di sekitarnya)
  • Maloklusi (Susunan tulang rahang dan gigi yang tidak rata)

Penanganan

Dalam menangani impaksi gigi bungsu perlu dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh oleh dokter gigi spesialis bedah mulut. Pemeriksaan yang dilakukan seperti pemeriksaan klinis yang mencakup ekstra oral dan intra oral serta pemeriksaan radiografik yaitu pemeriksaan panoramik atau biasa disebut foto dental. Berdasarkan hasil panoramik dokter gigi spesialis bedah mulut dapat memprediksi gigi tersebut akan mampu erupsi sempurna atau tidak, dan merencanakan tatalaksana sesuai indikasi. Tatalaksana dapat berupa tindakan dengan pembedahan atau tanpa pembedahan. Untuk tindakan pembedahan dinamakan Odontektomie yaitu prosedur pembedahan dengan cara pengangkatan gigi impaksi.

Odontektomi dengan bius lokal, dapat dilakukan pada pasien yang kooperatif, dan cukup dirawat jalan. Namun pada pasien dengan tingkat kecemasan yang tinggi, diberikan bius lokal ditambah obat penenang, atau dengan pembiusan umum khususnya diberikan pada kasus impaksi yang sangat sulit, atau pada pasien yang tidak kooperatif, seperti penderita gangguan mental.

Penanganan impaksi gigi bungsu juga dapat dilakukan tanpa pembedahan. Seseorang dapat hidup dengan gigi impaksi baik sebagian maupun keseluruhan tanpa mengalami gangguan. Pada gigi bungsu impaksi sebagian, bersih, tanpa gejala, tindakan odontektomi masih dapat ditunda atau bahkan dihindari.

Namun pilihan ini perlu dibarengi dengan upaya perawatan pribadi yang lebih cermat dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan baik, serta melakukan pemeriksaan rutin gigi geligi. Pada gigi bungsu yang mengalami impaksi seluruhnya, pasien dianjurkan waspada terhadap kemungkinan terjadi degenerasi kistik kantung folikel gigi (dental sac). Pasien dianjurkan secara berkala datang ke dokter spesialis bedah mulut yang akan memantaunya dengan melakukan pemeriksaan foto dental setiap 1-2 tahun sekali agar kista dentigerous yang mungkin terjadi dapat dideteksi awal. Baik tindakan pembedahan maupun tanpa pembedahan, masing-masing memiliki risiko maupun komplikasi yang harus diantisipasi dan dicegah agar komplikasi maupun kerusakan gigi dapat ditekan seringan mungkin.

Impaksi gigi bungsu perlu untuk ditangani dengan tepat agar dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan gigi dan penyakit gusi. Jangan lupa biasakan untuk berkunjung ke dokter gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali agar kesehatan gigi dan mulut tetap terjaga. Informasi & pendaftaran Jakarta Dental Clinic, Rumah Sakit Jakarta dapat menghubungi Telp 021-5732241 atau via Whatsapp 0815 8551 2655.


lensa-kontak.jpg
24/Feb/2022

Penggunaan lensa kontak tentu sudah tidak asing lagi di zaman sekarang. Kebanyakan lensa kontak digunakan sebagai tambahan dalam mempercantik penampilan. Namun, bagi sebagian orang yang mengalami gangguan penglihatan seperti mata minus, penggunaan lensa kontak merupakan salah satu pilihan alat bantu penglihatan selain kaca mata. Sama halnya dengan kaca mata, penggunaan lensa kontak memerlukan pemeriksaan dan resep dari Dokter Spesialis Mata. Lalu gangguan penglihatan apa saja yang bisa ditangani dengan Lensa kontak? Kemudian jenis lensa kontak apakah hanya soft lense saja? Mari kita bahas satu persatu yuk!

Lensa kontak merupakan lensa tipis terbuat dari plastik bening yang dipakai menempel pada kornea mata. Lensa kontak memiliki fungsi yang sama seperti kacamata, yaitu mengoreksi kelainan penglihatan, kelainan akomodasi, terapi dan kosmetik.

Lensa kontak digunakan pada kondisi berbagai kondisi, seperti :

  1. Miopia : rabun jauh/mata minus
  2. Hiperopia : rabun dekat/ mata plus
  3. Astigmatisme : mata silinder
  4. Presbiopia : perubahan pada penglihatan dekat yang biasanya terjadi seiring bertambahnya usia.

Lensa kontak terbuat dari berbagai jenis plastik. Dua jenis lensa kontak yang paling umum adalah keras dan lunak.

Hard Contact Lenses

Lensa rigid gas permeable (RGP), jenis lensa kontak yang kaku terbuat dari bahan yang mengandung silikon yang memudahkan oksigen melewati mata lewat bahan lensa. Lensa RGP sangat membantu bagi penderita astigmatisme (mata silinder) dan keratoconus (kondisi saat kornea menipis dan lama kelamaan menonjol keluar seperti kerucut). Ini karena RGP memberikan penglihatan yang lebih tajam daripada lensa lunak ketika kornea melengkung tidak rata.

Daily Wear Contacts

Dipakai saat beraktivitas dan harus dilepas saat tidur. Masa pakai lensa kontak ini ada yang sehari sekali, seminggu sekali, setiap dua minggu atau setiap bulan.

Extended Wear Contacts

Dapat dipakai saat tidur, tetapi harus dilepas untuk dibersihkan setidaknya seminggu sekali.

Toric Contacts

Tipe lensa ini dapat memperbaiki penglihatan untuk orang dengan astigmatisme (mata silinder), meskipun tidak sebaik lensa kontak keras. Lensa toric bisa untuk pemakaian harian atau diperpanjang.

Lensa Kontak Berwarna

Lensa kontak yang dilengkapi berbagai macam warna. Bisa ditemukan pada tipe Daily wear contacts, Extended wear contacts dan Toric contacts.

Lensa Kontak Dekoratif

Lensa ini dapat mengubah tampilan mata terlihat seperti vampir, hewan, atau karakter lain, tetapi tidak memperbaiki penglihatan. Bisa juga digunakan untuk menyembunyikan masalah mata tertentu baik yang ada sejak lahir atau disebabkan oleh cedera.  Untuk mendapatkan lensa ini  diperlukan resep dokter.

Jenis Lensa Kontak Lain

  • Lensa Kontak untuk Presbiopia

Lensa yang dirancang untuk memperbaiki masalah penglihatan normal yang dialami orang setelah usia 40 tahun.

  • Lensa kontak hibrida

Lensa ini memiliki bagian tengah yang kaku yang dikelilingi oleh cincin luar yang lembut. Ini menggabungkan visi tajam lensa keras dengan kenyamanan lensa lunak.

  • Lensa perban

Lensa kontak ini tidak memiliki resep yang terpasang di dalamnya. Sebagai gantinya, mereka menutupi permukaan kornea Anda untuk kenyamanan setelah cedera atau operasi.

Pemilihan lensa kontak tergantung dari kondisi seseorang. Untuk memperoleh hasil yang memuaskan diperlukan pemeriksaan awal yang tepat, fitting dan pemesanan yang benar. Informasi dan pendaftaran Klinik Mata Jakarta Aini, Rumah Sakit Jakarta, dapat melalui telp 021 5732241 atau via Whatsapp 0815 8551 2655.


Picture1.jpg
31/Jan/2022

 

Gigi yang sehat merupakan hal utama yang sangat berpengaruh untuk kesehatan anak. Oleh sebab itu, perawatan gigi anak harus dimulai sejak mereka mulai tumbuh gigi. Meskipun gigi ini akan tanggal dalam beberapa tahun, gigi susu menjaga ruang untuk gigi permanen anak, dan sangat penting bagi anak untuk memiliki gigi & gusi yang sehat saat gigi permanen tersebut tumbuh. Selain itu, menjaga gigi dan gusi anak tetap bersih akan melindungi mereka dari infeksi, gigi berlubang, dan sakit gigi. Lalu bagaimana sih cara menjaga dan merawat gigi anak yang benar? Yuk, simak penjelasan berikut ini.

Gigi susu pada bayi mulai erupsi (tumbuh) di usia ±6 – 30 bulan, sedangkan Gigi susu mulai lepas di usia anak ±6-12 tahun. Untuk Gigi permanen mulai tumbuh di usia ±6 tahun. Gigi susu sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan anak Anda. Mereka membantunya mengunyah, berbicara, dan tersenyum. Gigi susu dapat menjadi guidance untuk penunjuk arah tumbuhnya gigi permanen serta menahan ruang di rahang untuk gigi permanen yang tumbuh di bawah gusi. Ketika gigi susu tanggal terlalu dini, gigi permanen dapat melayang ke ruang kosong dan menyulitkan gigi dewasa lainnya untuk menemukan ruang ketika mereka masuk. Hal ini dapat membuat gigi bengkok atau berjejal. Itulah mengapa memulai bayi dengan perawatan mulut yang baik dapat membantu melindungi gigi mereka selama beberapa dekade mendatang.

Cara Merawat Gigi Anak

Mulailah membersihkan mulut bayi Anda selama beberapa hari pertama setelah lahir dengan menyeka gusi dengan kain kasa atau waslap yang bersih dan lembab. Begitu gigi muncul, pembusukan bisa terjadi. Empat gigi depan bayi biasanya mendorong gusi pada sekitar usia 6 bulan, meskipun beberapa anak tidak memiliki gigi pertama sampai 12 atau 14 bulan.
Untuk anak-anak di bawah 3 tahun, mulailah menyikat gigi segera setelah mereka mulai masuk ke dalam mulut dengan menggunakan pasta gigi berfluoride dalam jumlah tidak lebih dari noda atau seukuran sebutir beras. Sikat gigi secara menyeluruh dua kali sehari (pagi dan malam) atau seperti yang diarahkan oleh dokter gigi atau dokter. Awasi menyikat gigi anak-anak untuk memastikan bahwa mereka menggunakan jumlah pasta gigi yang tepat.
Untuk anak-anak usia 3 sampai 6 tahun, gunakan pasta gigi berfluoride seukuran kacang polong. Sikat gigi secara menyeluruh dua kali sehari (pagi dan malam) atau seperti yang diarahkan oleh dokter gigi atau dokter. Awasi menyikat gigi anak-anak dan ingatkan mereka untuk tidak menelan pasta gigi.
Sampai Anda merasa nyaman bahwa anak Anda dapat menyikat giginya sendiri, lanjutkan menyikat gigi anak Anda dua kali sehari dengan sikat gigi ukuran anak dan pasta gigi berfluoride seukuran kacang polong. Ketika anak Anda memiliki dua gigi yang bersentuhan, Anda harus mulai membersihkan sela-sela giginya setiap hari.

Perlu diketahui, gigi yang tidak dirawat akan membuat anak merasa tidak nyaman/ sakit, sehingga dapat mengganggu proses makan dan berpengaruh terhadap nutrisi anak. Jangan sampai terlewat merawat kesehatan gigi anak anda dan jangan ragu untuk berkonsultasi langsung dengan Dokter Gigi Spesialis Anak, Jakarta Dental Clinic, RS Jakarta. Untuk informasi dan pendaftaran dapat melalui Telp 021-5732241 atau Whatsapp 0815 8551 2655.


ESWT4.png
18/Jan/2022

Nyeri pada bagian otot atau sendi akibat cedera saat beraktivitas maupun berolahraga dapat dirasakan sewaktu-waktu. Terdapat terapi non invasif untuk penanganan nyeri dan yang pasti telah terbukti sebagai prosedur yang sangat aman yaitu Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT). Lalu kasus-kasus apa saja yang bisa ditangani dan bagaimana prosedur Extracorporeal Shock Wave Therapy ? Mari kita bahas satu persatu yuk!

Apa sih Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT) ?

Merupakan Jenis  tindakan terapi berteknologi tinggi dengan menggunakan gelombang kejut yang  efektif sebagai solusi terapi non-invasif yang aman untuk membantu menyembuhkan masalah nyeri musculoskeletal, cedera olahraga atau cedera aktivitas fisik. Gelombang kejut yang dihasilkan merupakan gelombang suara (akustik) yang membawa  energi tinggi pada titik nyeri dan cedera subakut, subkronik dan kronik musculoskeletal yang dapat meningkatkan proses perbaikan dan regenerasi tulang, tendon serta jaringan lunak lainnya.

Mekanisme Kerja

  1. Efek Analgesik – Eliminasi Nyeri
  • Mengurangi ketegangan otot, mencegah

Salah satu efek dasar terapi gelombang kejut dalam tubuh adalah hiperemia. Efek sirkulasi darah yang lebih baik ini menyebabkan berkurangnya interaksi patologis antara aktin dan myosin. Hal ini menyebabkan penurunan yang signifikan dari ketegangan otot.

  • Membuat dispersi (penyebaran) substansi P yang merupakan mediator nyeri. Aktivitas Substansi P menyebabkan stimulasi serat nociceptive, terbentuknya edema dan mendukung sekresi histamin. Pengurangan konsentrasi zat P mengurangi rasa sakit pada daerah yang terkena dan mengurangi terjadinya edema
  1. Mempercepat Penyembuhan
  • Meningkatkan Produksi Kolagen

Produksi jumlah kolagen yang cukup adalah prasyarat yang diperlukan untuk proses perbaikan struktur musculoskeletal dan ligamen yang rusak.

  • Meningkatkan metabolusme dan Mikrosirkulasi

Teknologi ESWT mempercepat pembuangan metabolit nociceptive, meningkatkan oksigenasi dan memasok jaringan yang rusak dengan sumber energi. Hal ini mendukung eliminasi histamin, asam laktat dan zat merugikan lainnya  lainnya.

  1. Pemulihan Mobilitas (Kemapuan Gerak)

Teknologi SWT menghancurkan kalsifikasi fibroblas  dan memulai dekalsifikasi biokimia dari proses primer kalsifikasi  atau gejala sekunder arthrosis.

Penggunaan ESWT Pada Berbagai Masalah Kesehatan

  1. Neck Pain (nyeri leher)
  2. Upper Back Pain (nyeri punggung atas)
  3. Lower Back Pain (nyeri punggung bawah)
  4. Shoulder Pain ( nyeri bahu: subacromial pain syndrome, frozen shoulder)
  5. Tennis/Golfer’s Elbow (cedera overuse siku)
  6. Wrist Injury (cedera pergelangan tangan )
  7. Knee Pain  ( nyeri lutut akibat cedera ataupun degeneratif)
  8. Hip Pain (nyeri panggul)
  9. Ankle Sprain ( cedera pergelangan kaki )
  10. Plantar fasciitis (nyeri peradangan  telapak kaki)
  11. Trigger Finger ( peradangan sendi jari-jari)
  12. Muscle strain (cedera otot)
  13. Muscle Spasm (otot yang tegang)
  14. Tendinitis (peradangan tendon)

Tahapan Prosedur ESWT:

  • Tindakan ESWT merupakan tindakan non-invasif (tidak menembus ke dalam tubuh)
  • Posisi pasien dapat berbaring telentang, tengkurap atau duduk bergantung sisi mana yang akan diterapi dan tidak memerlukan
  • Bagian yang akan diterapi dalam kedaan bersih, lalu diolesi gel agar penghantaran gelombang lebih baik dan memberikan hasil yang optimal.
  • Dosis terapi disesuaikan dengan masalah pasien, dan setiap sisi yang sakit diberikan kejutan sesuai kebutuhan.
  • Rasa nyeri menunjukkan bagian yang bermasalah, skala nyeri akan menurun setelah terapi.
  • Selesai terapi gel dibersihkan dan pasien dapat melakukan aktifitas normalnya.

Sport Medicine, RS Jakarta merupakan layanan pengobatan dan perawatan cedera olah raga, termasuk penggunaan ESWT dengan panduan USG. Sebelum menjalankan perawatan, disarankan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan dengan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, RS Jakarta. Bagi anda yang mengalami keluhan serupa, sebaiknya segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Sport Medicine, Rumah Sakit Jakarta. Untuk pendaftaran dapat menghubungi Telp 021-5732241 atau via Whatsapp 0815 8551 2655.


Logo-neuro-neu-neu.png
10/Dec/2021

Pernahkah melihat keluarga anda atau bahkan diri anda sendiri mengalami gejala mudah lupa atau mungkin sulit fokus dalam melakukan aktivitas sehari-hari? Bahkan perubahan emosi menjadi mudah marah, bingung dan depresi? Waspada, bisa jadi anda mengalami penyakit pikun!

Penyakit pikun atau demensia adalah serangkaian gejala yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif intelektual yang cukup berat sehingga mengganggu aktivitas sosial dan profesional sehari-hari bahkan dapat menyebabkan gangguan perilaku. Gejala awal demensia yang paling menonjol biasanya adalah gangguan daya ingat terutama kesulitan dalam mengingat informasi baru. Pada penurunan fungsi kognitif ringan tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari disebut sebagai predemensia atau mild cognitive impairment. Beberapa penyakit otak dapat menyebabkan demensia seperti stroke, tumor otak, infeksi otak, pasca cidera kepala akibat kecelakaan, penyakit autoimun, atau penyakit degenerative seperti alzeimer dan Parkinson. Sekitar 60-70 persen kasus demensia adalah penyakit alzeimer yang umumnya dialami oleh lansia dengan usia rata-rata diatas 65 tahun. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan usia lebih muda akan terkena demensia.

Pemeriksaan dan deteksi dini demensia dapat dilakukan dengan pemeriksaan neurobehavior. Pemeriksaan ini dapat mempertajam pengenalan dini kelainan di otak sehingga tatalaksana yang tepat untuk menyembuhkan atau menghambat progresifitas penyakit dapat segera dilakukan. Pemeriksaan Neurobehavior merupakan suatu prosedur penilaian kemampuan neuropsikologis dan kognitif suatu individu. Penilaian pada pemeriksaan ini mencakup beberapa aspek, seperti :

  • Fungsi atensi (perhatian dan konsentrasi)
  • Fungsi bahasa (kelancaran berbicara, pemahaman berbahasa, penamaan suatu objek, pengulangan kata, membaca, menulis)
  • Fungsi memori (daya ingat)
  • Fungsi visuospasial (kemampuan konstruksional)
  • Fungsi eksekutif (cara berfikir, kemampuan pemecahan masalah, pengambilan keputusan)
  • Gejala perubahan prilaku (perubahan mood dan emosi)

Indikasi pemeriksaan, dapat dilakukan pada kondisi ;

  • Pasien dengan gangguan memori dan gangguan kognitif
  • Pasien dengan gejala pikun progresif
  • Pasien dengan gangguan perilaku
  • Pasien dengan resiko tinggi demensia
  • Sebagai skrining gangguan kognitif atau kelainan fungsi otak

Prosedur Pemeriksaan :

  • Ruang tes yang nyaman, aman, dan minimal kebisingan
  • Menggunakan set tes yang sudah terstandarisasi untuk menilai aspek atau domain kognitif tertentu sesuaikan dengan kebutuhan pasien
  • Pasien diminta mengerjakan, mengikuti instruksi dan menjawab serangkaian pertanyaan yang diberikan oleh dokter spesialis neurolog

Persiapan sebelum tes :

  • Tidak ada persiapan khusus
  • Pasien hanya diminta tidur cukup saat malam hari (5-7 jam), sudah sarapan dan sudah ke toilet

Jangan ragu segera konsultasikan pada dokter spesialis neurologi dan lakukan deteksi dini kepikunan/demensia karena pengobatan sedini mungkin tentu hasilnya akan lebih baik.  Bagi anda yang mengalami gejala serupa, sebaiknya segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Neurologi, Jakarta Brain Center, Rumah Sakit Jakarta. Untuk pendaftaran dapat menghubungi Telp 021-5732241 atau via Whatsapp 0815 8551 2655.


PLDD.jpg
15/Oct/2021

Banyak diantara kita pasti sering mengangkat barang yang cukup berat namun tidak dalam posisi yang tepat. Jika terlalu sering kita lakukan maka akan mengakibatkan nyeri pada tulang belakang. Nyeri tersebut bisa menjadi tanda terjadinya Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau dikenal dengan sebutan saraf terjepit.

HNP terjadi ketika struktur cincin annulus fibrosus pada bantalan antar ruas tulang belakang mengalami robekan sehingga jaringan nucleus pulposus yang terdapat di dalam cincin itu menonjol dan menekan saraf yang ada di dekatnya. Penekanan pada saraf itulah yang memunculkan gejala seperti nyeri, baal, hingga kelumpuhan pada area pinggang hingga tungkai.

HNP terjadi secara bertahap. HNP tahap awal, yakni sebelum cincin annulus fibrosus mengalami robekan, dan pada kondisi ini dapat ditangani dengan teknik Percutaneous Laser Disc Compression (PLDD). Nah, mau tahu lebih jelas mengenai teknik PLDD ? Apa saja tahapan prosedur dan keunggulan teknik tersebut? Yuk kita bahas satu persatu!

PLDD adalah suatu alternatif pengobatan pada kasus saraf terjepit pada usia muda (HNP) dan saraf terjepit pada usia tua (Spinal Stenosis), dengan metode penciutan bantalan tulang (Disc) dengan menggunakan sinar laser yang disuntikan pada bantalan tulang yang megalami penonjolan. Teknik ini dilakukan dipandu dengan teknologi C-arm terbaru yang dikenal aman dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Gambaran Prosedur PLDD :

  • Pasien sadar, tidak perlu puasa, posisi tengkurap di meja operasi
  • Dilakukan gambar pada titik -titik yang akan dilakukan PLDD ( bisa 1/2/3 level) dgn bantuan alat C-arm.
  • Aseptik dan antiseptik daerah tindakan
  • Dilakukan penyuntikan pada bantalan yang menonjol dengan bantuan alat C-arm.
  • Pastikan jarum suntik pada bantalan dengan pemberian kontras
  • Jarum dihubungkan dengan tip laser ke alat BIOLITEC
  • Dilakukan proses heating sampai mencapai 1200 joule pada pinggang dan 800 Joule pada leher dengan panjang gelombang yang sesuai masing 2 lokasi.
  • Prosedur selesai.

Keunggulan Tindakan PLDD :

  • Tanpa Pembedahan
  • Tanpa Pembiusan
  • Tanpa Puasa
  • Perawatan RS hanya 8-12 jam
  • Dapat langsung pulang sehabis tindakan bila pasien sanggup/ tidak ada keluhan

Angka keberhasilan tehnik PLDD telah dilaporkan sebesar 80 % dan teknologi PLDD ini telah digunakan di beberapa pusat pengobatan tulang belakang di dunia, termasuk di Indonesia yaitu di Jakarta Orthopedic Center, RS Jakarta. Untuk informasi lebih lanjut mengenai teknologi PLDD (Percutaneous Laser Disc Decompression) atau laser saraf kejepit dapat menghubungi Telp 021-5732241 atau via Whatsapp 0815 8551 2655.

Jakarta Orthopaedic Center, Rumah Sakit Jakarta.


WhatsApp-Image-2021-09-30-at-11.13.09-1200x898.jpeg
30/Sep/2021

Katarak merupakan kondisi yang mengganggu fungsi penglihatan yang ditandai dengan lensa mata yang menjadi keruh dan sulit ditembus cahaya, sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi buram bahkan dapat mengakibatkan kebutaan. Faktor penyebab katarak, antara lain :

  • Proses degeneratif atau bertambahnya usia
  • Riwayat trauma atau cidera pada mata
  • Gangguan metabolisme
  • Paparan sinar radiasi dan sinar UV yang langsung pada mata dalam waktu yang lama
  • Penggunaan obat-obatan jangka panjang seperti kortikosteroid
  • Faktor genetik

Perkembangan teknologi operasi katarak pada saat ini sudah sangat maju, yaitu dengan metode Phacoemulsifikasi. Operasi Katarak dengan metode Phacoemulsifikasi menggunakan energi ultrasound untuk menghancurkan masa lensa yang keruh, kemudian menjadi bagian kecil, sehingga mudah di aspirasi kedalam mesin.

Kelebihan Operasi dengan alat Fakoemulsifikasi :

1.Insisi atau luka yang kecil,

2.Proses penyembuhan lebih cepat

3.Hasil yang lebih baik,

4.Tidak memerlukan jahitan.

Operasi katarak modern menggunakan teknologi Fakoemulsifikasi, memberikan hasil operasi yang optimal, tidak hanya dalam hal pemberantasan kebutaan katarak, tapi juga peningkatan kualitas hidup.

Oleh :

dr. Wita Jayanti, Sp M,

Dokter Spesialis Mata

Klinik Mata Jakarta Aini, Rumah Sakit Jakarta


images.jpg
10/Sep/2021

Ortodonti adalah perawatan untuk memperbaiki posisi gigi yang tidak teratur (berjejal) serta meningkatkan fungsi mastikasi agar kesehatan mulut dapat terjaga secara keseluruhan. Guna mencapai tujuan tersebut diperlukan alat-alat untuk menggerakkan gigi-gigi dan mengkoreksi kelainan yang ada. Secara umum alat ortodonti dibagi menjadi dua yakni alat ortodonti lepasan (removable appliance) dan alat ortodonti cekat (fixed appliance).

Kelainan Dentofasial (Wajah & Gigi)

Kelainan dentofasial sering disebabkan oleh ketidak-seimbangan dan fungsi otot-otot bibir, pipi, dan lidah yang tidak normal. Posisi lidah saat menelan ataupun berbicara dijadikan indikator penting untuk melihat ada tidaknya masalah fungsional dari otot-otot yang membentuk struktur dentofasial.

Terapi Myofunctional Pada Usia Tumbuh Kembang

Alat ortodonti lepasan pada umumnya digunakan untuk menggerakkan gigi-gigi pada usia dini (6-12 tahun). Terdapat berbagai jenis alat ortodonti lepasan termasuk alat myofunctional seperti bionator, monoblok, twin block, Frankel dan lain-lain.

Pemilihan berbagai jenis alat ortodonti lepasan adalah berdasarkan dari hasil diagnosisnya.

Oleh :

drg. RA Ravitri, Sp. Ort

Dokter Gigi Spesialis Orthodonti

Jakarta Dental Clinic, Rumah Sakit Jakarta


images.jpg
31/Aug/2021

Vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat umum telah dibuka beberapa pekan lalu.  Ada beberapa keluhan yang dialami peserta vaksin pasca vaksinasi seperti, nyeri pada lengan di tempat suntikan, nyeri sendi, menggigil, mual atau muntah, rasa lelah, demam, dll. Beberapa keluhan/reaksi diatas termasuk dalam KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang yang menerima vaksin Covid-19 mengalami reaksi setelah vaksinasi. Kalaupun terjadi, reaksi yang timbul adalah wajar. Hal yang perlu diingat adalah KIPI jauh lebih ringan dibandingkan terkena COVID-19 ataupun komplikasi terkait COVID-19.

Reaksi yang terjadi biasanya menandakan vaksin sedang bekerja di dalam tubuh kita. Sistem daya tahan tubuh sedang belajar cara melindungi diri dari penyakit. KIPI umumnya bersifat sementara, hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Yang harus dilakukan jika terjadi reaksi/ keluhan/ efek samping setelah vaksinasi Covid-19, sebagai berikut :

  • Tetap tenang
  • Jika terjadi reaksi seperti nyeri, bengkak atau kemerahan di tempat suntikan, kompres dengan air dingin pada tempat suntikan tersebut.
  • Jika demam, kompres/mandi dengan air hangat, perbanyak minum air putih dan istirahat.
  • Jika dibutuhkan, minum obat sesuai anjuran petugas kesehatan.
  • Laporkan semua reaksi/keluhan yang terjadi setelah vaksinasi ke petugas kesehatan.
  • Untuk mengantisipasi terjadinya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serius, sasaran diminta untuk tetap tinggal di tempat pelayanan vaksinasi selama 15 menit*) sesudah vaksinasi.

Hubungi kami


021-5732241
0815-8551-2655 (WhatsApp)
Fax : 021-5710249


Jalan Garnisun No.1, Jalan Jend.Sudirman,
RT.5/RW.4, Karet Semanggi, Kec.Setiabudi,
Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12930


marketing@rsjakarta.co.id
customer.relation@rsjakarta.co.id


Copyright © 2020 - www.rsjakarta.co.id All rights reserved.